Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

10

Oct

2 cara riang meraih ruang

Ragu-ragu beraksi di ruang publik kian mengikis. Ruang yang kerap dipertanyakan siapa pemilik dan penggunanya, ternyata juga sarat klaim dari satu pihak atas pihak lain. Akibatnya, masih banyak orang segan mengekspresikan diri apa adanya di ruang publik.

Di Jakarta, bisa dikatakan porsi terbesar ruang publik adalah jalan, atau jalanan. Jalan menjadi tempat paling mungkin digunakan siapa saja, masyarakat dari setiap lapis sosial dan ekonomi, publik. Sayangya, saat ini, kemampuan jalan yang luas dan tak terbatas itu, sedang dalam kekuasaan kendaraan pribadi daripada tubuh setiap pribadi.

“Hati-hati menyeberang” atau “Awas ada mobil” dan seruan sejenisnya sering diperdengarkan untuk pejalan kaki. Sebaliknya, sangat jarang, seruan untuk pengendara, misalnya, agar segera melambatkan laju kendaraaan jika melintas Zebra Cross. Seruan-seruan dalam keseharian ini, telah menyiratkan mobil atau kendaraan bermotor sebagai pengguna utama jalanan. Sebaliknya, pejalan kaki harus mengalah dan dipinggirkan. Area badan jalanan Jakarta terlanjur ditasbihkan untuk kendaraan bermotor. Tak heran jika Car Free Day (CFD) selalu menuai antusias warga Jakarta. 

CFD adalah hari istimewa yang terjadi dalam dua atau tiga kali dalam satu bulan, dengan mengkhususkan jalur cepat penggal Jalan Sudirman - Thamrin bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda kayuh. Kendaraan pribadi dan angkutan umum hanya dibolehkan menggunakan jalur lambat. CFD yang sudah terlaksana bertahun-tahun itu, populer digunakan warga Jakarta berolahraga, lalu berkembang dengan kerap diadakan acara publik secara terbuka dan cuma-cuma. Walau acara-acara itu juga menuai protes terkait soal kebersihan dan malah membuat orang tak leluasa bergerak. 

Demikian, warga ramai saja menikmati CFD. Pusat keramian biasanya bertempat di bunderan HI dan Monas. Di kedua tempat ini, warga biasanya duduk-duduk melepas lelah dan menikmati pemandangan sekitar. Namun, selalu tak salah melakukan sesuatu di luar kebiasaan, bahkan mungkin patut diberi salut.

Adalah Happy Holiday yang melakukan uji coba itu. Kelompok ini mempelopori joget kuda poni ala Gangnam Style dari Korea, di Bunderan HI. Rupanya joget gaya ini manjur membuat warga Jakarta spontan bergerak bersama. Lagu berbahasa Korea yang merupakan sindiran untuk area elite di negara gingseng itu, berhasil menghasut ratusan orang berjoget tanpa ragu-ragu, sungkan, atau malu-malu. Tak penting hafal lirik dan tahu artinya, asalkan ikut bergerak serasi dengan yang lain, seolah-olah terbersit segera rasa ingin menjadi suatu bagian. (saksikan aksi ini di http://www.youtube.com/watch?v=CZ2hFlLMBg4)

sumber: C40cities.org


Gerak dan ekspresi riang yang tak kaku di jalanan, hanya bisa terjadi jika perasaan turut memiliki ruang tersebut tidak terjajah. Hal ini tampaknya juga disadari oleh sekelompok orang yang turut serta dalam Park(ing) Day. Park(ing) Day berasal dari San Fransisco, kegiatannya menyulap parkiran mobil menjadi taman umum dalam satu hari. Dengan kondisi besarnya ruang tersitanya untuk kendaraan pribadi, baik saat melaju di jalanan maupun untuk parkir, sudah tentu aksi ini menginspirasi dan menarik minat sebagian warga Jakarta. Harapannya, di masa mendatang, kian banyak masyarakat tergugah untuk bersama-sama berupaya mengembalikan ruang publik seutuhnya, dan bukan yang melulu untuk ditempati ruang -ruang pribadi bernama kendaraan pribadi.

Mengutip dari http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/1736: Permasalahan yang dihadapi di negara berkembang adalah lebih banyak tersedia ruang bagi kendaraan dibanding untuk manusia. Sebagai contoh, di Jalan Sabang sendiri hanya 22% yang untuk manusia, sisanya untuk lahan parkir dan jalan raya bagi kendaraan. Jakarta kekurangan area publik. Area publik itu bebas, setiap orang bisa masuk tanpa hambatan apapun, baik aksesibilitas, finansial, maupun psikologis. Mal yang banyak dijumpai di pelosok Jakarta, bukanlah area publik. Yang termasuk area publik adalah taman, jalan, dan perpustakaan.

Park(ing) day digelar minggu ketiga setiap bulan September. Hingga 2012, baru ada beberapa titik yang memungkinkan aksi ini, antara lain di Kemang, Sabang, dan Slipi. Kegiatan yang berlangsung di taman yang menjelma dari parkiran itu adalah diskusi, pameran, dan pentas seni.

Seperti halnya Joget Kuda Poni, Park(ing) day juga merupakan cara meraih ruang di area publik. Dua cara ini dilakukan dalam suasana riang, penuh senyum dan tawa, mengajak setiap orang bergembira menikmati ruang publik. Dan, siapa tahu cara inilah yang ternyata ampuh merasuki pikiran orang bahwa ruang publik adalah juga untuk tubuh setiap pribadi, dan bukan melulu kendaraan pribadi. Sehingga, nantinya, setiap orang tak lagi canggung beraksi, bersikap, dan berpikir kritis di ruang publik. ** (rf)

20

Apr

Olah-Oleh, Kumpul-kumpul Jajanan Khas

Mengemas ulang jajanan khas ke dalam gedung shopping mall bukan hal baru. Banyak outlet sudah melakukan. Jajanan khas ala pasar dan jalanan dibungkus lebih manis, disajikan di rak yang anggun, dan kadang memang dimasak dengan tambahan ini-itu. Pokok maunya, membawa nama dan citra yang akrab di telinga masyarakat, tapi meninggalkan keadaan pasar dan jalanan yang tanpa AC juga berdebu.

Olah-Oleh adalah salah sebuah toko yang membawa rasa-rasa khas dari pasar ke shopping mall. Kue-kue kering, aneka keripik, aneka minuman tradisional, cokelat, permen, dan lainnya, dipajang di rak-rak kayu berwarna coklat tua. Cat rak kayu terlihat berkilap, apalagi karena tertimpa lampu. Dan yang berkesan buat saya, adalah kopi.

Bukan kopi sachet dan instant. Olah-Oleh menyediakan berbagai macam merek kopi, yang ‘serius’. Sebut saja merek JJ Royal, Mandheling, Java Dancer, Kopi Aroma Bandoeng, dan lainnya. Hampir setiap merek mengemas kopi dari Aceh, Jawa, Sumatera, Bali, Toraja, Flores, dan sebagainya, dalam bungkus per bungkus. Tentu, per bungkus tidak dijual Rp 10ribuan, melainkan rata-rata Rp 50ribuan.

Saya senang melihat kopi-kopi ini berderet di rak yang mengilap itu. Mereka seperti sedang merayakan sesuatu. Tapi, sayang, peraturan toko mengatakan tidak boleh memotret. 

(foto ini berjudul dryfood, diunduh dari www.alunalunindonesia.com)

Olah-Oleh bisa ditemui di Alun Alun Indonesia, tepatnya di dalam gedung Grand Indonesia. Gedung ini adalah shopping mall yang berada di seberang Plaza Indonesia, dan bersebelahan dengan Thamrin City. Kedua tetangga Grand Indonesia itu, juga shopping mall. Mereka akan terlihat dari Bundaran Tugu Selamat Datang (di Jakarta).

Kali lain, jika bertandang ke kawasan Tanjung Duren/Grogol/Jakarta Barat, Anda juga bisa mengunjungi Olah-Oleh di sini. Letaknya menyatu dengan Sogo Departemen Store, di lantai tiga, di dalam gedung Central Park. Central Park adalah shopping mall yang diapit dua shopping mall lain, Mall Taman Anggrek dan Citraland Mall.** (rf)  

07

Apr

Pengikut Siput

Ajaib rasanya, melihat siput di bundaran Tugu Selamat Datang. Apalagi, karena sudah tak lama melihatnya. Rasanya pun lebih mudah menjumpai siput, 20 tahun lalu, setiap hujan reda di kebun belakang sekolah, atau di antara rerumputan pinggir jalan lingkungan perumahan. Populasi siput mungkin sudah menurun, seiring penggunaan lahan untuk kepentingan manusia. Tapi, sejak dulu, melihat siput di jalan besar memang tak lazim bagi saya.  

Siput yang lamban, tak bersuara, cenderung tak ingin menghampiri, apalagi memangsa manusia, membuat saya tak punya kenangan buruk tentangnya. Juga tak ada rasa jijik atau enggan mendekati, karena tubuhnya berlendir. Sebaliknya, saya menaruh hormat kepadanya. Saya tak ingin mengganggu siput, sebab salut atas mekanisme pertahanan dirinya. Ia akan segera menelusup ke dalam cangkang apabila ada bahaya. Cangkang selalu diibaratkan rumah bagi siput. Rumah yang tak bisa dipisahkan dari tubuhnya. 

Sering terdengar ungkapan ‘lambat seperti siput’. Kelambatan memang dianggap bukan hal yang baik. Meski dalam dongeng klasik, tentang Siput dan Kancil, dikisahkan kemenangan Siput melawan kelincahan Kancil (http://fixguy.wordpress.com/fabel-kancil-dan-siput-lomba-lari/). Tapi, dijuluki seperti ‘siput’ oleh atasan di tempat kerja, merupakan peringatan atas kinerja yang buruk. Dalam pergaulan, ungkapan ini bisa berarti cemooh. Agaknya, kita memang lebih menyukai kecepatan daripada kelambatan. Walau, dalam keseharian, menjadi lambat tak terhindarkan. Sebab, kenyataan kita melaju seperti siput. Lambat, di jalan yang penuh pengendara.** (rf)