Warung Jakarta

Jun 15

Next

Next

May 31

Bersenang-senang di Jembatan Item

Saat dengar nama Jembatan Item, saya bayangkan ada cerita misteri. Nama Jembatan Item mungkin diambil dari kejadian buruk, yang jadi lembaran ‘hitam’ warga di sekitar Jatinegara. Atau dulunya berupa satu sudut gelap dan angker, tempat berkumpul para penjahat yang bikin bulu kuduk bergidik. Nyatanya, tidak.

“Jembatan Item, sebutan untuk jembatan dari kayu yang hitam kebakar” kata Yanto, pria berusia 50 tahun, sedari lahir menetap di sekitar Jembatan Item. Jembatan kayu di atas kali Cipinang itu kini sudah tidak ada, berganti aspal kelabu. Demikian, Jembatan Item tetap populer.

image

Sejak 10 tahun lalu, Jembatan Item jadi pasar barang bekas. Para pedagang membangun kios dan menggelar dagangan di tepian jalan. Macam-macam perabot rumah tangga, buku-buku, perlengkapan pribadi: tas, sepatu, dompet; sepeda kumbang, juga koleksi antik, berderet sepanjang 1 Km. Jembatan Item selalu ramai di pagi hari hingga pukul 12 siang, terlebih sabtu dan minggu.

Mukri, sudah lima tahun berdagang di Jembatan Item. Barang dagangannya tak tentu setiap hari. “Tergantung dapatnya saja” katanya. Ia mengaku kerap naik sepeda keliling kota, mencari barang-barang bekas yang bisa dijual di lapaknya. Hari ini ada jam dinding, sepatu sport, dua tas sport, satu unit helm, dua kaca spion motor, novel Realita, Cinta, dan Rock n Roll, dan penanak nasi. Esok hari, beda lagi. Setiap hari, Mukri meraih untung 100 – 150 ribu. Kalau akhir pekan, untung bisa berkali lipat.

image

image

image

image

Kalau jalan-jalan ke Jatinegara, jangan lupa mampir ke Jembatan Item. Lokasinya persis di belakang Jakarta Gems Center, yang ada di seberang Stasiun Jatinegara. Barang murah meriah menghampar bagai harta karun. Lebih dari itu, orang-orang juga ramah dan gemar berfoto. Baru kali ini, saya menemui tempat di Jakarta yang tidak berat hati dan curiga dengan kamera. Meski demikian, Yanto, warga asli Jembatan Item, mengaku tak semua warga setuju lingkungan hunian mereka dijadikan tempat berdagang. Tarik ulur konflik antara warga dan pedagang juga  kerap terjadi. Yah, apa boleh dikata. Untuk sementara, kita nikmati saja dulu apa yang tersaji. Selamat bersenang-senang. *** (rf)

image

image

image

May 11

… di Krendang Barat.

image

image

image

Apr 28

Nasi Ulam Misjaya, juga Rosani

Tahun 1964, Misjaya mulai berjualan nasi ulam. Kala itu ia menggunakan pikulan, lalu berganti gerobak pada 1972. Dari pukul 17.00 hingga malam, Nasi Ulam Misjaya mangkal tepat di depan Klenteng Toasebio, Jl. Kemenangan III, kawasan Pecinan, Glodok, Jakarta Barat.

Orang-orang senang membeli nasi ulam untuk santap malam. Sebenarnya, hidangan ini hampir mirip dengan nasi rames atau nasi uduk. Yang istimewa, nasinya dimasak dengan rempah-rempah. Alat yang digunakan sejenis panci, yang disebut dandang. Tak banyak orang menggunakan alat ini lagi, meski hasil nasi lebih pulen dibanding dengan magic jar atau rice cooker.

Setiap hari Misjaya menyiapkan 200 porsi nasi ulam. Menu utama, selain nasi, adalah sambal kacang, semur, sayuran, dendeng, tahu, krupuk, emping, dan bihun. Sedangkan pilihan lauk lainnya, cumi asin, perkedel, tempe dan tahu bacem, bakwan udang, ayam goreng, dadar telur atau telur balado. Pilihan lain ini merupakan ide Misjaya, dari menu utama yang diajarkan kepadanya.

Nasi ulam sering didaulat sebagai masakan khas Betawi. Demikian, Misjaya berguru kepada seorang keturunan Tionghoa untuk meraciknya. Misjaya sendiri adalah pendatang dari Banten. Sekitar 1950-an, laki-laki berkulit gelap ini tiba di Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Namun, kesibukan mencari uang demi bertahan hidup, mengubah tujuannya. Hingga kini ia menekuni usaha nasi ulam, meneruskan rintisan Encek Lamceng, bosnya dulu.

“Encek Lamceng sudah lama meninggal. Dia gak punya keturunan. Jejaknya hilang begitu saja” kata Misjaya. Memang, jarang ada catatan yang menyebut kaitan peranakan Tionghoa dan nasi berbumbu rempah itu. Tapi, kepopuleran nasi ulam jelas tak lepas dari pengaruh mereka, meski kini sudah tak ada lagi sangkut paut soal bisnis. Encek Lamceng memang tak punya keturunan, tapi bukan berarti tak berjejak. Alih-alih hilang, resep peninggalannya membuat nasi ulam, juga Misjaya, dikenal masyarakat.

Dunia kuliner telah mengakui Misjaya sebagai salah satu penegak jenis nasi ulam. Ada dua jenis, yaitu nasi ulam basah dan kering. Racikan Misjaya termasuk yang basah, diguyur kuah semur. Sedangkan yang kering bisa ditemui di Tangerang dan Kuningan – Jakarta, serta beberapa tempat lainnya. (http://food.detik.com/read/2011/04/11/120025/1613235/908/nasi-ulam-dagangan-si-doel)

image

image

Sering dikatakan kalau tak banyak pedagang nasi ulam di Jakarta, tapi Misjaya membantah pendapat itu. Ia sendiri kini terlibat mengurus KOPSILAM (Koperasi Nasi Ulam), beranggotakan 238 pedagang. Pun sudah banyak anak buahnya yang membuka usaha sendiri. Tawaran kerjasama juga kerap berdatangan, “Bondan Winarno sering ajak saya ngembangin usaha. Katanya, ‘ayo dong pak Mis, kita bikin ini, bikin itu..’ Tapi saya lebih suka (usaha-red) yang begini saja” tuturnya.

Saat ini Nasi Ulam Misjaya tak hanya punya satu gerobak. Ini terutama karena peran Rosani, istrinya. Ada lima gerobak yang beredar dan mangkal di beberapa tempat, antara lain sekitar Kampung Krendang, Pekapuran, dan Jl. Gajah Mada. Terhitung sebelas orang yang bekerja pada mereka, baik yang berjualan maupun memasak di dapur. Sebagian anak-anak mereka juga melibatkan diri, terutama untuk mengelola tempat mangkal di Kemenangan III yang legendaris itu.

Berbeda dengan lima gerobak lain, pengelolaan gerobak di Kemenangan III ada di tangan Misjaya sepenuhnya. “Gerobak-gerobak lain, istri saya yang nanganin” katanya. Khusus untuk menyiapkan bahan pada gerobak yang ditanganinya sendiri, Misjaya mengeluarkan modal 2.5 juta rupiah per hari. Sedangkan, laba yang diperolehnya sekitar 500 ribu rupiah per hari.

Setiap hari dagangan di Kemenangan III selalu habis terjual, meski para pembeli tak selalu memesan menu komplit. Menurut Rosani, penyebabnya adalah tingkat daya beli yang berbeda-beda. “Gak semua orang bisa makan pakai dendeng. Ada yang cuma mampu beli tahu dan kerupuk”. Keadaan tersebut membuat mereka berinisiatif menyediakan banyak lauk yang harganya lebih terjangkau.

Satu porsi nasi ulam komplit dijual seharga 30 ribu rupiah, terdiri dari sambal kacang, semur, sayuran, dendeng, tahu, krupuk, emping, dan bihun. “Bisa juga beli 7000 rupiah, lauknya tahu bacem dan kerupuk” tutur Rosani yang lahir di Tangerang dan hijrah ke Jakarta setelah menikahi Misjaya. Strategi tersebut membuat dagangan mereka bertahan dan berkembang. “Kalau cuma sedia lauk dendeng, nasi ulam bisa bangkrut” tegasnya.

Strategi lain untuk terus mengembangkan usaha mereka, adalah aktif ikut pameran, festival, dan berbagai acara publik. Pesanan khusus untuk hajatan juga ditawarkan. Selain itu, Misjaya yang kini berusia 70 tahun, tak segan mengajarkan banyak orang meracik nasi ulam. “Kemarin, ada anak Trans TV belajar masak di dapur saya, satu minggu”. Ia pun mengaku tak keberatan jika diundang mengajar masak di berbagai tempat. Siapa berminat mendalami perihal nasi ulam, bisa mendatangi beliau di Kemenangan III, yang juga disebut Petak Sembilan, atau di kediamannya, Jl. Terate VII RT 04/ RW 04, Kelurahan Jembatan Lima, Jakarta Barat.** (rf)

Apr 14

Certeau, Twitter, dan Jakarta.

Jika saya tak salah menerjemahkan, dalam Walking in The City, Certeau memaknai pejalan kaki sebagai pemula dan perintis, juga pengubah dinamika kota. Berjalan kaki merupakan bentuk dasar mengalami sebuah kota, dan suatu pengorganisasian diantara kesibukan kota. (The Practice of Everyday Life)

Michel de Certeau adalah seorang filsuf Perancis. Salah satu karyanya yang berpengaruh adalah The Practice of Everyday Life. Pada bab Walking in The City, ia menelaah peran pejalan kaki sebagai pencipta jaringan, seperti penulis cerita, yang membentuk lintasan dan potongan-potongan, sehingga lalu berdampak pada perubahan ruang.

Pejalan kaki adalah subyek yang paling berkemungkinan mencerap elemen-elemen dan segala macam di sepanjang kota. Walau mereka tidak selalu terlibat aktif dengan apa-apa yang ditemui di jalan. Mereka mampu menjadi pencipta atau penonton, dapat memilih mendekat atau menjauh, terlibat langsung atau mengamati dari kejauhan- seperti Tuhan atau dewa. Pilihan-pilihan ini yang memungkinkan visi dari pesan-pesan di sepanjang kota, mampu bertransformasi dalam diri pejalan kaki, dan membuat mereka menjadi seorang visioner. (Walking in The City: The Practice of Everyday Life)

Berjalan kaki menjadi istimewa, karena kecepatannya memungkinkan seseorang sempat mengamat-amati dengan seksama. Sedang berkendara, baik pengendara maupun penumpang, berada dalam tingkat kecepatan yang relatif tak menyediakan waktu untuk memahami pesan-pesan di sepanjang kota. Pesan-pesan itu, antara lain, tersebut pada bentuk dan perilaku menjemur pakaian, macam-macam pagar teralis hingga tanaman pangkas, warna-warni bangunan dari abu-abu dan putih yang lazim sampai ungu kemerahan, detil-detil lahan-lahan kosong dan bangunan tak berpenghuni, susunan dan gaya huruf pada iklan sedot wc, gerak-gerik persaingan antar pijat vitalitas, dan banyak lagi pesan yang mencirikan kepribadian dan maksud tujuan hidup para penghuni kota. 

image

Susah berjalan kaki di Jakarta, bukan cerita baru. Trotoar tak rata, bolong-bolong, sempit, dimakan banyak kepentingan. Ditambah debu dan asap knalpot, kita kerap tak betah berjalan kaki. Maunya buru-buru saja tiba di tujuan, atau masuk ke dalam angkutan, atau segera membonceng ojek motor terdekat. Alih-alih pilihan kesenangan, berjalan kaki dianggap keterpaksaan. Sulit menemui makna dan visi seperti diuraikan Certeau di sini.

Bukti jumlah pejalan kaki yang sedikit, mudah ditemui di Jakarta. Berapa banyak sih, orang melintas di suatu penggal trotoar, dibandingkan dengan yang berkendara di lokasi yang sama? Contoh lain, bisa dilihat dari tak banyak orang menanti lampu tanda menyeberang di simpang jalan. Ya, memang, lampunya saja sering tak ada, lagipula banyak zebracross yang kini sudah lenyap. Alih-alih menarik visi dari pesan-pesan di sepanjang kota, lebih mungkin terjadi tubuh lelah berhati kesal penuh sumpah serapah.

Saya, seperti halnya Certeau, percaya jika jalanan, setidaknya, merupakan ruang yang memadai untuk menemui inspirasi. Berjalan kaki, tak cuma melihat, tapi juga mendengar, membaui, bahkan berbincang. Demikian, kita hidup dalam arus media penyedia dan penerima pesan yang berubah. Apa yang masih bisa ditimba dari jalanan kini? Apa berada di trotoar yang bopeng masih lebih menguntungkan daripada di hadapan  Twitter? 

image

Twitter, salah satu media sosial internet yang populer saat ini. Saya menganggapnya paling mewakili kemudahan menyebarkan dan mendapatkan informasi. Aksi yang digemari dalam website ini adalah Retweet. Tanpa perlu melakukan copy dan paste, si pembaca pesan dari suatu akun (mis. akun A) cuma perlu menekan Retweet, jika ingin meneruskan pesan akun A ke seluruh rekan-rekannya. Pesan dari akun pun tersebar ke C, D, dan lainnya, meski mereka tidak berekanan dengan akun A. Jika akun C, D, dan lainnya, masing-masing, juga melakukan retweet, pesan akan tersebar lebih luas, tanpa perlu mengenal siapa pengirim pesan. Retweet memang bersistem serupa dengan surat berantai. 

Selain, kepraktisan sistem pesan berantai ini, para pengguna akun juga bisa melihat-lihat halaman akun lain, beserta akun-akun yang menjadi rekan halaman tersebut. Mudah sekali terjadi kesempatan berinteraksi dengan akun-akun dari berbagai berlatar belakang, sekaligus bertemu hal-hal baru tanpa sengaja. Saya rasakan ini sebagai tak ubahnya berjalan kaki di kota, yang penuh keragaman elemen dan buah pikiran. 

Kelebihan Twitter lain adalah batas maksimal 40 huruf setiap pesan. Batas ini membuat kita tak hanya menjadi pembaca teks secara berurutan. Sebaliknya, kita seperti diberi ruang untuk meracik satu teks dengan teks lain, sesuai kesenangan dan jalan pikiran masing-masing. Seperti berjalan di kota, runtutan pesan ini sama halnya dengan apa-apa yang dilintasi pejalan kaki. Ia tidak mesti deskripsi panjang, tapi seperlunya saja. Secukup kecepatan pejalan kaki mencerapnya, sebelum mereka berlalu.

image

Jika berjalan kaki berdampak mempengaruhi perubahan ruang, seperti dikatakan Certeau, maka perubahan apa yang terjadi di dunia Twitter? Pejalan kaki adalah perintis penggunaan suatu lahan atau ruang. Telapak kakinya berkesinambungan dengan telapak kaki selanjutnya. Ada jejak atas keberadaannya. Ada lintasan yang terjadi, karena potongan-potongan jalur pejalan kaki pada sebuah ruang.

Dalam dunia Twitter, jejak-jejak pejalan kaki mungkin bisa diibaratkan dengan runtutan pesan-pesan yang membentuk suatu lintasan. Lintasan pikiran. Satu pesan bisa melintas pada banyak pikiran pengguna akun, bisa juga tidak. Satu pesan bisa menjadi jalan untuk menemukan pesan lain, bisa juga jadi jalan buntu. Satu pesan dan pesan demi pesan bisa mempengaruhi jalan pikiran orang lain, menginspirasi lahirnya suatu ide dan mencuatkan perubahan, bisa juga sebaliknya.

Meski bisa mengibaratkan dunia Twitter dengan sebuah kota, dunia ini tidak mengejewantah secara fisik, selain di alam pikiran. Ia tidak menyelesaikan soal perpindahan kita dari tempat parkir ke suatu gedung. Saya masih sulit membayangkan ketiadaan gerak tubuh yang dinamakan jalan kaki ini. Walau dengan kondisi trotoar Jakarta yang menyedihkan, kita sebisa mungkin menghindarinya.

Certeau, besar kemungkinan hidup dalam alam keseharian yang berbeda dengan Jakarta. Ia mampu menelaah dampak berjalan kaki pada sebuah ruang dan kemungkinan-kemungkinan visi yang diterima pejalan kaki dari hamparan fakta di sepanjang kota, sebab berjalan kaki bukan suatu tindakan praktis belaka. Berjalan kaki adalah juga suatu kegiatan kesenangan, seperti kita kini senang mencerap pesan-pesan di Twitter dan melalui media komunikasi lainnya. 

Adanya suatu perubahan melalui Twitter, seperti halnya perubahan ruang karena jejak pejalan kaki, memang masih jadi pertanyaan. Tapi jika Twitter sudah bisa menjadi ruang, seperti yang ditemukan Certeau dengan berjalan kaki, apa masih perlu trotoar Jakarta diperjuangkan perbaikan kondisinya demi menjadi sebuah ruang? Jika kita hanya perlu berjalan kaki sebagai tindakan praktis saja, kenapa mesti meletakkan perbaikan trotoar sebagai prioritas? Lebih banyak mana hal-hal yang bisa diperoleh dari melangkahkan kaki, dibanding menggerakkan jemari pada tetikus?** (rf)